Masa Depan Lamborghini, diantara Bahan Bakar Sintetis vs Listrik Sepenuhnya

Masa Depan Lamborghini, diantara Bahan Bakar Sintetis vs Listrik Sepenuhnya

Masa Depan Lamborghini, diantara Bahan Bakar Sintetis vs Listrik Sepenuhnya

Ketika para produsen mobil bergerak menuju masa depan yang serba listrik, sebuah pengingat akan masa lalu dan masa kini dari pembakaran internal datang dari Stellantis. Seperti yang dilaporkan oleh Reuters, Wakil Presiden Senior Stellantis, Christian Mueller, mencatat bahwa banyak dari kendaraan pembakaran internal yang diproduksi oleh perusahaan saat ini kemungkinan masih akan tetap digunakan jauh setelah revolusi mobil listrik terjadi.

Hal ini muncul ketika konglomerat otomotif ini membagikan berita tentang kolaborasi dengan perusahaan energi Aramco mengenai pengembangan dan penggunaan bahan bakar elektronik sintetis. Dengan menggunakan sampel bahan bakar elektrik yang dipasok oleh Aramco, Stellantis mulai menguji berbagai mesin untuk mengetahui kompatibilitasnya.

Sebanyak 24 mesin yang digunakan di Eropa dari berbagai merek menggunakan bahan bakar ini dan dapat berjalan dengan baik tanpa perlu melakukan modifikasi. Bahan bakar elektronik dibuat dengan mereaksikan karbon dioksida dengan hidrogen, dan Stellantis mengklaim bahwa bahan bakar ini dapat mengurangi emisi karbon siklus hidup dari kendaraan hingga 70 persen.

Elektrifikasi terus berkembang, terlihat dari banyaknya brand otomotif yang ikut menggarap. Tak terkecuali Lamborghini, merek supercar tersebut memang telah mengumumkan rencana pengembangan produk bertenaga listrik. Namun, pabrikan asal Italia tersebut masih memfokuskan pada teknologi hybrid.

Beberapa model memang telah disiapkan. Mereka adalah Aventador HEV pada 2023, Huracan PHEV dan Urus PHEV pada 2024, lalu model yang masih dirahasiakan hingga 2028. Saat ditanyakan model pengguna listrik sepenuhnya, Region Director at Lamborghini Asia Pacific – Francesco Scardaoni mengatakan bahwa pihaknya belum bisa membeberkan lebih jelas. Tapi rencana hybrid tersebut tetap berjalan tanpa ada perubahan.

Alasan mengapa hybrid masih menjadi perhatian Lamborghini karena dinilai sudah mampu memenuhi standar emisi di banyak negara. Selain itu, mereka tak ingin terburu-buru dalam menyajikan mobil full electric. Pasalnya, produk tersebut harus mampu merepresentasikan karakter Lamborghini atau dengan kata lain orang dapat langsung mengenali tanpa perlu melihat.

Francesco Scardaoni

“Bagi kami tiap hari pengembangan elektrifikasi sangat penting. Sejujurnya cukup sulit, kami harus hati-hati dalam menggarap (mobil) listrik sepenuhnya. Jika nantinya kami menghadirkannya, Anda harus bisa mengenali bahwa itu adalah Lamborghini dengan mata tertutup,” ucapnya saat peluncuran Huracan Sterrato di Bali, pekan lalu.

Karakter yang dimaksud tak hanya desain, tapi juga faktor performa termasuk output suara. Lamborghini harus mencari formula tepat untuk mewujudkan keinginan tersebut. Untuk saat ini, mesin pembakaran konvensional yang dipadukan teknologi hybrid masih menjadi jawaban dalam mempertahankan karakter Lamborghini.

Apalagi ditambah pengembangan bahan bakar sintetis yang makin marak. Beberapa produsen tak hanya produsen mobil, tapi pelumas turut serta. Salah satu yang terdekat dengan Lamborghini adalah Porsche yang berhasil menciptakan bensin dari campuran karbon dioksida dan hidrogen. Mereka sendiri merupakan bagian dari Volkswagen Group.

Melihat hal tersebut, Francesco menilai bahan bakar buatan dapat menjadi solusi bagi brand untuk tetap bermain di segmen mobil hybrid. Sehingga mereka bisa mempertahankan karakter dan menjaga emisi sesuai regulasi berlaku.

“Bahan bakar sintetis bisa menjadi jalan bagi super sports car hybrid dengan bahan bakar sintetis. Namun, kembali lagi ke regulasi. Bila diizinkan, maka ini menjadi skenario terbaik. Bagi kami opsi terbaik adalah ICE di super sports car. Karena ia lebih emosional dan performing. Bicara performa, tidak cuma soal akselerasi, tapi juga handling. Mobil listrik handling kurang baik, karena beratnya. Selain itu, daya jelajah. Bila dipacu kencang di trek, akan cepat habis,” jelas Francesco.

“Kami merupakan bagian dari grup yang melakukan investasi di inovasi ini. Kami terus mempelajari bagaimana mengaplikasikannya ke mobil kami,” tambahnya.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *